Kontroversi dan Polemik Film Dilan 1991 di Kota Makassar


Film Dilan 1991 yang merupakan sekuel dari Dilan 1990 telah tayang perdana di Indonesia pada 28 Februari 2019. Selain mendapat sambutan hangat dari masyarakat di tanah air, Film Dilan 1991 juga mendapat penolakan di Kota Makassar.

Buat saya pribadi, kontroversi maupun polemik di yang ditimbulkan oleh film Dilan 1991 ini  merupakan sesuatu hal yang menarik untuk ditelusuri. Sebagai seorang jurnalis, selain merujuk kepada berita-berita terkait di media tentunya saya ingin mencari informasi yang lebih  valid dengan terjun langsung ke pihak-pihak bersangkutan dari yang pro dan kontra terhadap film ini.

Tulisan ini saya susun dari beberapa informasi yang saya kutip di beberapa media online di Kota Makassar dan hasil investigasi langsung di tempat kejadian perkara. Dalam investigasi, saya sempat menonton langsung film Dilan 1991,  mewawancarai langsung para pendemo, penonton dan pihak pimpinan bioskop XXI Kota Makassar.



Kronologi penolakan Film Dilan 1991
Aksi penolakan pertama dilakukan oleh Komando Mahasiswa Merah Putih (Kompi) Sulsel di Dinas Pendidikan Kota Makassar pada tanggal 27/02/19. 

Dilansir dari SulselExpres.com alasan Kompi Sulsel  menolak  penayangan Dilan 1991 di Kota Makassar kerna film ini dinilai tidak sesuai budaya Bugis-Makassar. Di Sulsel kita sangat berpegang teguh budaya ketimuran yang sangat santun. Ujar Fajar Baharuddin Ketua Kompi Sulsel. 

" Tindakan amoral dan asusila di dunia pendidikan itu meningkat." Jelasnya  lagi 
Kendati demikian,  dia  menganggap hadirnya Film  Dilan ini bisa mengakibatkan meningkatnya lagi tingkat kekerasan di dunia pendidikan.

Pada Aksi pra kondisi yang dilakukan Kompi Sulsel, mahasiswa mengancam  akan masif mengelilingi seluruh Mall dan memboikot bioskop yang ada di Kota Makassar jika film Dilan 1991 tetap ditayangkan. 



Pada hari penayangan Perdana tanggal 28 Februari 2019, berita penolakan Film Dilan 1991 di Kota Makassar sempat viral di media sosial dan menjadi bahan perbicangan publik.

Tanggapan berupa hujatan dan kritikan membanjiri ruang media sosial. Sehingga tak  terhitung banyaknya, bak hujan yang turun dari langit.

Bukan hanya di Kota Makassar, tanggapan datang dari seluruh tanah air dengan adanya aksi penolakan di Kota Makassar. Tentu ada yang pro dan kontra terhadap penolakan film ini.

Oleh kerna terlalu banyak, maka saya akan himpun beberapa tanggapan dari hasil wawancara pihak terkait, pemerintah setempat, dan pendapat para ahli.

1. Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar  


Informasi yang saya kutip dari Detik.com, Rahman Bando selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar mengatakan alasan mahasiswa penolakan film yang diangkat dari novel Pidi Baiq ini kerna tidak memuliakan profesi guru. Sampai dalam orasinya mahasiswa mengatakan Film ini melecehkan profesi guru dan tidak sesuai dengan martabat pendidikan.

Dia beranggapan jika mahasiswa datang menyampaikan aspirasi yah itu sah-sah saja kerna bagian dari demokrasi. Dirinya dan kedinasan terima dengan baik. Namun tindakan untuk memboikot film itu diluar kewenagannya. 

" Ada lembaga sensor film yang berwenang dalam hal ini. Saya tidak bisa berkomentar banyak kerna saya pribadi belum menonton film ini" jelas Rahman Bando.

2.  Sekretaris kritikus Film Indonesia Sulawesi Selatan. 
Lufti S H Matto selaku sekretaris kritikus Film Indonesia Sulsel  mengatakan adanya penolakan terhadaap terhadap Dilan 1991 harus dicermati mengapa film ini ditolak.

Sederhana, aksi penolakan tersebut dapat membuat penonton semakin penasaran untuk menyaksikan adegan dalam film tersebut. Bisa saja ini menjadi sebuah gimik untuk menarik minat para penonton.

Terlepas dari itu, dia amat menyanyang aksi mahasiswa yang tidak melakukan kordinasi dengan insan perfileman yang tentunya memiliki nilai tawar yang lebih strategis. 

seharusnya, energi demontrasi mahasiswa diarahkan ke hal-hal yang lebih subtantif seperti undang-undang perfileman demi menghindari monopoli layar lebar.

Aksi Mahasiswa di dalam Mall Panakkukang Pas depan Bioskop XX1 Kota Makassar

3. Koordinator Demonstran 
Dedi Ariyadin salah satu koordinator demostran yang bergabung dalam Aliansi Peduli Generasi mengatakan aksi yang dilakukan mahasiswa di Kota Makassar sudah melalui kajian yang mendalam dan konsolidasi internal tekait Film Dilan.      

Menurut dia Film Dilan ini melanggar   Undang-Undang Perfileman Nomor 33(b) Tahun 2009 yang tertera bahwa filem sebagai media komunikasi massa merupakan sarana mencerdaskan bangsa dan pembinaan akhlak mulia.


" Merujuk kepada kata mencerdaskan bangsa ini harusnya mencerminkan hal-hal yang positif dan mendidik" . jelas dia.

Hadirnya film dilan  1990 maupun 1991 menampilkan beberapa adegan yang tidak mencerdaskan seperti anak yang memakai seragam sekolah melakukan kekerasan terhadap guru dan adanya adegan ciuman yang bertentangan dengan norma agama.

Mahasiswa beranggapan, jika dikaji dari sisi sosial Film Dilan sangat mempengaruhi pola pikir anak dibawah umur dan orang dewasa di atas 20 tahun juga akan rentan terpengaruh.

Dalam aksinya di beberapa Bioskop XXI di Makassar, Mahasiswa menuntut pihak berweanang menghentikan penayangan Dilan 1991 dan seterusnya  mencabut izin XXI di seluruh Indonesia.

Tuntutan Mahasiswa di Kota Makassar juga ditujukan kepada kementrian Pendidikan dan Kebudayaan agar melakukan tindakan dengan menhentikan penayangan filem ini.

Pada orasinya, Mahasiswa meminta Komisi  DPR RI menindaklanjuti poin-poin yang menjadi tuntunnya.

Ahmadyani Hafid, Manager XXI Wilayah Timur(Kiri) bersama Pimpinan Bioskop XXI kota Makassar

4. Manager XXI/21  Wilayah Timur Indonesia
Ahmadyani Hafid selaku Manager XXI wilayah Timur Indonesia meminta adanya investigasi langsug terhadap film 1991.

Jadi mari kita sama-sama cermati dan investigasi langsung ke film ini. Saya juga dibikin heran, belum nonton kok pada protes. kata Ahmad kepada pers dan mahasiswa yang datang ke Bioskop XXI Mall Panakkukang Kota Makassar pada jumat (8/3) malam.

Soal ada tuntutan dari aksi pendemo  untuk segera menutup dan menghentikan Film Dilan 1991  di sejumlah  XXI di Kota Makassar, Ahmad mengatakan hal itu sudah di luar wewenangnya.

Ahmad menambahkan lagi bahwa kapasitasnya di XXI adalah sebagai penjual. Film  Dilan 1991 ini layak ditayangkan kerna sudah lolos Lembaga Sensor Film di Indonesia.

Bukti Film Dilan 1991 telah lolos sensor

"Yah, tidak mungkin kita mau pasarkan kalau tidak lolos sensor. Jadi kita juga tau undang-undang". Jelasnya lagi.

Namun Ahamad  juga menghargai segelintir mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi terkait film ini. Tapi dia sangat menyayangkan aksi yang gelar malah menggangu ketenteran serta merusak fasilitas di Bioskop XXI Mall Panakkukang.

" Kalau ingin menyampaikan aspirasi itu sah-sah saja. Tapi kalau sudah merusak fasilitas bioskop dan mengganggu ketentaraman pengunjung, yah jalur hukumnya beda lagi" Tegas Ahmad.


Ketika ditanya tentang adegan kekerasan dan ciuman yang sempat diprotes Mahasiswa, Ahmad malah sontak bertanya kembali, sudah nonton belum ??

" Kalau belum nonton, Yah mari kita buktikan  terlebih dahulu, apakah ada adegan-adegan yang sepeti yang disebutkan mahasiswa. Kalau sudah nonton kita lanjutkan wawancara" . Beber dia.

Ahmad meminta insan pers dan mahasiswa bersama-sama  investigasi dengan menonton langsung  film Dilan 1991 di Bioskop XXI Mall Panakkukang jumat (8/3) malam.

Ahmad juga menambahkan sebelum Demo ditanggal ( 27/02/19), pihak bioskop dan mahasiswa sudah melakukan pertemuan internal di CVG Daya pada 26/02/19  terkait film ini. Kerna pada waktu itu belau lagi menghadiri rapat di Jakarta, pihak Bioskop diwakili oleh salah seorang pegawai XXI. Namun dari hasil pertemuan ,  mahasiswa tetap melakukan penolakan terhadap film Dilan 1991 di Kota Makassar.

Pengunjung masih memadati Bioskop XX1  di Mall Panakkukang untuk menknton film Dilan 1991 Jumat (03/08) malam.

5. Penonton Film Dilan
Lufti, Salah seorang penonton film Dilan 1991 yang sempat saya wawancarai di Bioskop XXI Mall Panakkukang jumat (8/3) malam mengatakan bahwa Film ini pada umumnya cuma menceritakan cinta remaja. 

" Selama menonton film Dilan 1991 tadi, saya tidak melihat adegan-adegan seperti yang  disebutkan mahasiswa" Ujar Lufti

Ia hanya berharap kedepannya perfileman di Indonesia agar lebih mengangkat prestasi siswa bukan hanya kisah-kisah cintanya saja.

Dari 5 tanggapan yang saya muat, ada 3 orang  yang saya wawancarai langsung ke TKP  yaitu koodinator demonstran, Manager Bioskop XXI Wilayah Timur dan salah satu penonton Film Dilan 1991 yang saya temui di Bioskop XXI Mall Panakukang.


Polemik Film Dilan 1991 di Kota Makassar
Penolakan Film Dilan 1991 di Kota Makassar juga mendapat tanggapan tertulis dari warganet di media sosial dan media daring. Berbagai pendapat yang pro dan kontra terhadap aksi Mahasiswa ini.

Jika ada segelintir Mahasiswa di Kota Makassar melakukan aksi penolakan terhadap Film Dilan 1991 itu sah-sah saja. Masyarakat harus mengerti tentang kebebasan berpendapat yang tertuang di Undang-Undang Dasar 1945 pasal yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia.

Namun yang disayangkan adalah ada tindak anarkis mahasiswa yang merusak fasilitas Bioskop XXI dan terjadi saling dorong antar mahasiswa dengan petugas keamanan di Mall Panakkukang.

Dari itu, pendapat atau aspirasi yang disampaikan, mahasiswa harus siap menerima segala dampak yang ditimbul. Pasti ada pihak terlibat dari apa yang disampaikan. Ada pula masyarakat yang memberikan tanggapan.

Kebanyakan warganet yang menolak hanya menyampai keluh-kesah dan  malah ada yang berkata kasar melalui platform online saja. Sampai saat ini, belum ada masyarakat secara perorangan maupun kelompok yang kontra menyampaikan kata-kata sadis mereka langsung kepada pelaku aksi.

Ketika ditanya soal tanggapan warganet, Aryadin salah seorang mahasiswa mengatakan bahwa kritikan yang hadir merupakan konsekwensi dari aksi yang mahasiswa dilakukan.


" Jangankan melakukan hal buruk, melakukan seribu kebaikan pun  masih mendapat ejekan oleh orang-orang yang masih dalam ketidaksadaranya.  Sebagai nahasiswa yang berfikir dan sadar akan fungsi serta tanggungjawab atas nama mahasiswa  yang kami  Emban,, penolakan yang kami lakukan kerna peduli terhadap generasi 5-10 tahun kedepan. Kami menilai film Dilan sudah melenceng daripada agama, budaya, pendidikan dan sosial bangsa ini." tulisnya melalui pesan whatsapp.

Semua orang bisa pro dan kontra terhadap sesuatu. Namun sikap saling menghargai pendapat orang lain harus kita tanamkan dalam diri masing-masing. Para pemimpin daerah, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Bisokop saja menilai  aspirasi yang dilakukan Mahasiswa itu sah-sah saja.

Saya cuma heran, apa dalam benak salah seorang penulis yang juga masih berstatus mahasiswa  mengatakan bodoh, tidak intelektual dan cari sensasi  saja para pendemo itu. Kritik pedas yang berkoar-koar itu telah dia sampaikan dengan cara yang tidak konsisten. Sedikit menganjal ketika saya tidak menemukan lagi kata-kata kasar yang dia seperti saat pertama kali tulisan itu dibagikan.

Jadi saya sempat berkomentar, sehebat apakah dirimu Bung, ilmu dan pengalamanmu sudah setinggi mana ?Jikalau tidak setuju pun tolong ditapislah sedikit kata-katanya.

Setelah ingin tau balasan dari sang penulis, yah ada sedikit balasan tapi ada beberapa kata kasar sudah tidak saya temukan pada tulisan. Jelas sudah di edit bung.. Ternyata cuma pada hangat tahi ayam  kritikan super pedas nan kasar itu.

Apapun kejadiannya, marilah kita sipakatau, sipakainga', dan sipakalebbi..

Oh Iya, sebelum mengakhiri sedikit menambahkan. Soal tempat kejadian ? Yah Kota Makassar. Suatu kejadian pasti punya unsur where alias dimana lokasinya ? Penolakan terjadi..hmmm..Absolutely, harus jelas tempatnya. Kalau memang kejadiannya di Kota Makassar,  yah itulah kenyataannya.

Buat warga Makassar , jangan malah mempertambah buruk keadaan dengan mengaitkan Kota kita dengan anarkisme. Di Kota-kota lain ditanah air juga juga pernah melakukan aksi demontrasi dan lebih anarkis dari Kota Makassar.

Tapi penolakan Dilan cuma di Kota Makasar ? Loh, jangan lihat 1 kasus saja, banyak juga tuh kontrversi yang terjadi di tempat lain tapi tidak terjadi di Kota Makassar.

Sampai di sini ajha dlu yah..Sudah cukup panjang kayaknya. Kalau dibahas lagi soal Kota Makassar dan identitas segelintir mahasiswa itu. Bakalan out of topic dan bakalan lebih panjang lagi..

Ntar di bahas lagi di lain kesempatan.. :)

Oh iya., jika Anda punya tanggapan lain soal Penolakan Film Dilan 1991, ditunggu yah komentarnya  dibawah..

Terima kasih udah berkunjung.. :) see you next time.

0 Response to "Kontroversi dan Polemik Film Dilan 1991 di Kota Makassar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel